Tagar “we’re in this together” sempat merajalela di kala pandemi. Sebuah ekspresi kemanusiaan yang menyatakan solidaritas dan sejatinya tidak bermakna buruk, mungkin hanya sedikit naif. Badai yang kita lalui memang sama, tapi tidak dengan kapal kita. Bukan hanya pandemi, metafora ini juga dapat menggambarkan dunia secara umum dan dunia kedokteran secara khusus.
Ada yang dapat memilih kapal pesiar anyar dari galangan kapal yang tentu dilengkapi teknologi mutakhir dan sistem navigasi paling mumpuni. Inventaris makanan lebih dari cukup, lengkap dari makanan pembuka, hidangan utama, dan pencuci mulut. Tiap deck kapal memiliki peruntukannya masing-masing agar entertainment dapat berlangsung senyaman mungkin. Terik matahari di zenith atau hantaman ombak di tengah malam tidak pernah jadi persoalan. Ada APAR jika kebakaran, ada sekoci dan pelampung pada seburuk-buruknya kejadian.
Di laut yang sama, juga ada rentetan kapal yang mengandalkan angin atau bahkan dayung untuk berlayar. Persetan GPS, matahari dan rasi bintang adalah kompas satu-satunya sehingga kamu terus berdoa untuk ketiadaan awan. Makanan yang disantap bergantung pada hasil memancing yang tidak bergaransi untuk selalu ada. Seisi kapal selalu basah, ntah karena hujan, air laut yang perlahan menyisip, atau peluh yang terus bercucuran. Tidak ada hiburan karena perjalanan kamu adalah bentuk bertahan hidup. Sumber daya kamu terbatas, kamu hanya punya satu kesempatan.
Pada akhirnya, semua jenis kapal yang bersauh di dermaga berhasil menaklukkan perjuangannya. Meski dengan kapal sekelas Titanic, nakhoda tetap harus melakukan manuver agar dapat mencapai tujuan. Meski dengan sampan, kamu tetap sampai pada tujuan.
God has His hand on the wind, you just need to keep rowing.