"Jadwal akademik yang tidak teratur" adalah jawaban template seorang mahasiswa sebagai sebuah threat dalam sesi analisis SWOT. Waktu masih digenggam erat sebagai suatu properti pribadi yang selayaknya dijalani tanpa intervensi. Jadwal kuliah pakar reschedule karena dosen berhalangan hadir. Jadwal keterampilan klinik reschedule karena dosen mendadak sc cito. Hingga suatu waktu yang tak jelas, penolakan kondisi yang ada sudah berevolusi menjadi penerimaan. Dunia pribadi yang ingin dijaga utuh, perlahan, tapi pasti, melebur. Kita perlahan menyadari bahwa dunia medis menyita waktu yang tidak sedikit, menuntut kapasitas fisik dan mental yang tidak runtuh begitu saja, dan dengan egoisnya melangkahi aspek-aspek kehidupan yang lain untuk berada di puncak.
Proses pendidikan yang dijalani dalam bentuk kelompok juga menjadi suatu kondisi tersendiri. Setidaknya akan ada 8 orang lain yang berdampingan menjalani perkuliahan, orang-orang yang mengetahui keadaan kita. Demikian juga dengan tahapan profesi: koas, dokter muda. Semua dokter muda akan terbagi dalam beberapa kelompok preseptor. Pada dasarnya, kita tidak pernah benar-benar sendiri. Oh, kecuali saat menyusun skripsi.
Beberapa pihak mungkin merasa terkekang menjalani kehidupan sebagai koas. Semua tindakan benar atau salah tidak diatributkan pada individu, tetapi dijatuhkan pada kelompok koas. Kita sangat jarang dianggap sebagai seorang individu, hanya seseorang berbaju putih yang akan bertukar wajah dan sifatnya tiap satu atau dua bulan.
"Jam berapa jadwal kita setelah ini?" Preklinik dengan kelompok tutor, koas dengan kelompok preseptor. Kita tidak pernah benar-benar sendiri. Sayangnya, proses pendidikan yang telah dirancang sedemikian rupa membuat kita terlena, bahwa keadaan "kita" tidaklah selamanya. Pada suatu titik yang jelas, kita akan berubah menjadi saya--bukan lagi kata ganti jamak orang pertama.
Setelahnya akan lulus generasi dokter baru, seorang individu yang kemampuannya disematkan pada nama yang ada, sendiri. Proses pendidikan melatih kita untuk berada di lapangan, menghadapi pasien, dan menyelesaikan masalah yang ada. Satu hal besar yang perlu kita cari tahu secara mandiri adalah cara melakukan semua itu sebagai seorang individu.
Dengan garis akhir yang sudah di depan mata, sebuah gagasan timbul menjadi momen untuk kita mengapresiasi mereka yang telah bersama. Kalau kita kembali masuk SMA setelah lulus SMA kemarin, kita akan lulus untuk kedua kalinya. Kita menghabiskan seperempat usia kita bersama, menjalani waktu yang semakin lama semakin kecil proporsinya.
Penyusunan rangkaian acara BLAST bertujuan untuk memiliki kesan masing-masing pada tiap segmen. Acara diawali dengan talkshow pasutri angkatan kami, SERO01 dan SERO02. Aqil dan Elfi gak segan memberikan pencerahan kepada audiens yang dimoderatori oleh Dira selama satu jam. Durasi talkshow satu jam memang bukan untuk moderator yang mencoba-coba. Kemampuan Dira untuk membuka keran-keran percakapan sebagai tindak lanjut jawaban Aqil dan Elfi memang tidak perlu diragukan. Satu jam mengalir begitu saja. Segmen "serius" yang kami khawatirkan tidak akan menarik justru belum cukup mengakomodir rasa penasaran troops--istilah bagi anggota Se20tonin-- dalam satu jam.
Setelah ishoma, acara berlangsung informal. Deretan kursi dipinggirkan agar audiens dapat duduk lesehan dengan leluasa. Games klasik "tebak gambar" melalui potongan foto memang tidak akan ada matinya. Nopal dan Dyne perlahan mengarahkan fokus peserta acara dengan pemilihan foto yang di luar nalar, hingga seorang Aisyah gabisa mengenali potongan fotonya sendiri. Agak disayangkan, tapi tidak mengejutkan, ketiga pemenang sesi game ini adalah perempuan. Sebuah kondisi yang sepertinya memang dapat merepresentasikan pengamatan terhadap teman satu sama lain.
Selesai games, energi sudah mulai kembali, acara dilanjutkan dengan sesi yang kami pertaruhkan: cerita se20ku. Mengadaptasi konsep Cerita Cintaku oleh Raditya Dika, kami ingin mengangkat pengalaman anak se20tonin selama menempuh pendidikan. Segmen acara akan dipimpin oleh seorang moderator dengan tuntutan yang berbeda dengan talkshow. Moderator harus mampu menghidupkan cerita yang diberikan, menggali informasi, act out. Harapan kami tumpukan pada pundak Adit yang dieksekusi dengan sempurna. Ekspektasi aku memang tidak tinggi karena kesediaan Adit untuk menjadi moderator segmen ini saja sudah luar biasa. Akan tetapi, bro tidak bermain-main dalam tugasnya. Seketika pembawaan berubah, intonasi bicara lebih playful, celetukan disertai act out yang benar-benar lucu, serius. Tentunya segmen ini tidak akan pecah tanpa donatur tiga cerita yang dibawakan oleh Tio, Uul, dan Dyne.
Euforia yang masih tinggi dilanjutkan ke segmen komting. Empat komting se20tonin di bawah asuhan Coach Nopal unjuk gigi hasil latihan dalam 24 jam terakhir. Aiken, Rere, Abi, dan Aqil bergantian menyambung vokal pada lagu kota ini tak sama tanpamu dan Dewi. Rere pulang dengan fans yang melonjak dua kali lipat.
Sesi yang aku tunggu-tunggu, penayangan video oleh tim pididi. Mengambil konsep SORE yang juga anagram SERO, aku menjadi saksi betapa tingginya dedikasi mereka dalam persiapan, perekaman, dan penyuntingan video. Lampu venue dimatikan, lampu latar berwarna biru dinyalakan untuk mendukung suasana temaram. Tujuh belas menit video berlalu begitu saja, meninggalkan kami yang merinding dengan reka ulang perjalanan kuliah yang sangat kami pahami tiap framenya. Emang ngaco pididi.
Setelah penayangan video, kami mengirimkan doa untuk mendiang sahabat kami yang sudah terlebih dahulu berpulang. Mood acara yang tadinya cerah, ceria, dipenuhi gelak tawa, perlahan surut dengan beberapa tetesan air mata. Acara diakhiri dengan pembuatan surat untuk teman yang berada di samping kanan. Tidak lupa dokumentasi wajib di setiap sudut venue, apalagi dengan backdrop photobooth yang sangat estetik.
Selesai? Itulah yang ada dalam benakku sebelum buku bertuliskan "yearbook" masuk dalam lapang pandangku. "Loh bukannya gajadi bikin yearbook?" Reaksi Al selaku ketua pelaksana, Uty sebagai sekre, dan Dea sebagai bendahara juga tidak kalah bingung. Aren, koor pididi, single-handedly membuat buku tahunan yang saangat komprehensif merangkum perjalanan 6 tahun ini tanpa diketahui orang lain (ato mungkin ada yang tau, tapi aku gatau siapa yang tau wkwkwk)
BLAST berakhir. Apakah sesuai ekspektasi yang aku tentukan? Iya. Partisipasi yang tinggi, kedatangan yang cukup disiplin, pelaksanaan acara yang minim kendala, sangat lebih dari cukup. BLAST selesai, waktu menuju garis akhir tidak melambat sedikit pun.
Terima kasih Al, Uty, dan Dea telah memercayakan aku sebagai salah satu koordinator. Terima kasih Aren, Lia, Adit atas kerja samanya. Tak lupa, anggota divisi Ica, Dyne, Nafisya, Abel, Uul, Hani, Aiken, Jo, Nopal, Naldi atas semua ide brilian (dan asbun) untuk acara kita. It is indeed a blast.