Genap tiga bulan sejak pertarungan menghadapi gempuran soal yang ternyata di luar nalar. Mengenang perjuangan yang belum sejauh itu, sebuah kata kunci spesifik muncul di kepala: ishoma–istirahat, sholat, dan main. Kegiatan penuh dopamin yang dicetuskan ntah karena kemenangan atau justru melalui interaksi sosial dalam bermain
“Hmm, ishoma gasih?” menjadi celetukan pertama pemanggil malapetaka.
Bagai oasis di gurun sahara, beberapa senyum merekah di tiap meja yang tadinya suntuk menatap layar try out. “Yaudah ayo cari dopamin dulu, satu game aja yaa”
Kalau kalah, tutup. Kalau menang, “enak gasih, nagih gasih, satu game lagi lah”. Aku baru sadar kalimat ini terdengar layaknya seorang pecandu hahha
Satu tahun yang lalu, aku dan Jo sempat memeriksa pasien psikiatri dengan gangguan neurotik yang mengonsumsi obat golongan SSRI yang bikin kadar serotonin relatif lebih tinggi karena inhibisi reuptake.
“Setelah minum obat sekian lama, gimana rasanya sekarang, bu?”
“Saya jadi apa ya namanya … lebih sabar, ga gampang marah kaya biasanya. Saya seorang guru. Dulu kalau ada tingkah laku murid yang tidak sesuai, saya langsung marah. Tapi, sekarang lebih ‘yaudalah, gapapa namanya juga anak-anak’”
Respons tersebut membuat kami bertanya-tanya, apakah serotonin uptake orang-orang yang gampang marah bekerja lebih cepat daripada orang kebanyakan? Tercetuslah pertanyaan menarik dari Jo,
“Apa sebenarnya kita ini hanya manifestasi dari berbagai macam neurotransmitter yang ada?”
Memang ada beberapa penyakit akibat gangguan neurotransmitter, dari myasthenia gravis hingga skizofrenia. Akan tetapi, arah pertanyaan di atas tentu tidak dalam lingkup sesempit itu. Bagaimana jika zat sintetis tersebut dapat dibuat dan dimanfaatkan secara luas dalam sarana rekreatif.
Mulai dari sini, tulisan dibuat dengan penyederhanaan yang cukup ekstrem dan pendekatan pseudoscience. Sengaja gamau mengutip artikel apapun karena kegiatan menulis substansi nonformal ini adalah bentuk ekspresi, pelarian, dan pembebasan diri dari dunia evidence-based itu.
Mungkin akan ada periode ketika zat-zat neurotransmitter tersebut menjadi sarana rekreasi dengan resepnya masing-masing. Kalau mau dimabuk asmara, dua vial dopamin, satu ampul serotonin, dengan drip oksitosin; kalau mau efek merokok, satu tablet dopamin dan dua kapsul serotonin; kalau bosan dan perlu gairah yang lebih, hajar pakai bolus dopamin high dose
Anggaplah bisa, tapi manifestasi emosi tidak serta merta linear dari biomarker yang ada. Aspek ini menjadikan manusia sebagai manusia. Input yang sama persis belum tentu bermuara pada hasil yang sama. Tafsiran subjektif yang tidak bisa saling dibandingkan menjadikan topik ini tidak terstandarisasi. Aku bisa bilang bahwa aku senang hanya dengan ngobrol sama kamu, tapi apakah kamu juga merasakan hal yang sama dengan intensitas yang sama. Apakah ada konsep bahagia dan lebih bahagia?
Upaya objektifikasi konsep absurd ini emang gaada ujungnya hahaha. Tanpa perlu intervensi sana sini, let human be human. have some fun, yearn for someone, long for them, get your heart broken, have your hopes high, explore nature, bawl your eyes out, hug your loved one